BAB II
BIOGRAFI HAMKA
A. Sepintas tentang Hamka
Haji Abdul
Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan Hamka, yakni singkatan
namanya, ia lahir di Sungai Batang, Maninjau,
Sumatera Barat, pada tanggal 17 Februari
1908 M bertepatan dengan tanggal 14
Muharram 1326 H. Lahir dari pasangan Haji Abdul Karim Amrullah lebih dikenal
dengan nama Haji Rasul dan Shafiyah Tanjung, sebuah keluarga yang taat
beragama. Ayahnya adalah seorang ulama besar dan pembawa paham-paham pembaruan
Islam di Minangkabau. Ia meninggal pada tanggal 24 Juli 1981 di Rumah Sakit Pertamina Jakarta dalam
usia 73 tahun.[1]
Sebelum mengenyam pendidikan di sekolah,
Hamka tinggal bersama neneknya di sebuah rumah di dekat Danau Maninjau. Ketika berusia enam tahun, ia
pindah bersama ayahnya ke Padang Panjang.[2]
Sebagaimana umumnya anak-anak laki-laki di Minangkabau, sewaktu kecil ia
belajar mengaji dan tidur di surau yang berada di sekitar tempat ia
tinggal, sebab anak laki-laki Minang memang tak punya tempat di rumah. Di surau,
ia belajar mengaji dan silek, sementara
di luar itu, ia suka mendengarkan kaba, kisah-kisah
yang dinyanyikan dengan alat-alat musik
tradisional Minangkabau.[3] Pergaulannya dengan tukang-tukang kaba,
memberikannya pengetahuan tentang seni bercerita dan mengolah kata-kata. Kelak
melalui novel-novelnya, Hamka sering mencomot kosakata dan istilah-istilah
Minangkabau. Seperti halnya sastrawan yang lahir di ranah Minang, pantun dan
petatah-petitih menjadi bumbu dalam karya-karyanya.
Pada tahun 1914, setelah usianya
genap tujuh tahun, ia dimasukkan ke sebuah Sekolah Desa dan belajar
ilmu pengetahuan umum seperti berhitung dan membaca di sekolah tersebut.[4]
Pada
masa-masa itu, sebagaimana diakui oleh Hamka, merupakan zaman yang
seindah-indahnya pada dirinya. Pagi ia bergegas pergi ke sekolah supaya dapat
bermain sebelum pelajaran dimulai, kemudian sepulang sekolah bermain-main lagi,
bermain galah, bergelut, dan berkejar-kejaran, seperti anak-anak lainnya
bermain.[5] Ia juga sangat senang nonton film, bahkan
karena hobinya ini, ia pernah “mengicuh” guru ngajinya karena ingin menonton Eddie
Polo dan Marie Walcamp. Kebiasaannya menonton film berlanjut terus ketika di
Medan umpamanya, tiap film yang berputar terus diikutinya, melalui film-film
itu kerapkali ia mendapat inspirasi untuk mengarang.[6]
Ketika usianya mencapai 10 tahun,
ayahnya mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ Hamka kemudian
mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab, salah satu pelajaran yang paling
disukainya.[7] Saat itu, ia juga belajar di Diniyah School
setiap pagi, sementara sorenya belajar di Thawalib dan malamnya kembali
ke surau. Demikian
kegiatan Hamka kecil setiap hari, sesuatu yang sebagaimana diakuinya tidak
menyenangkan dan mengekang kebebasan masa kanak-kanaknya.
Saat berusia 12 tahun, kedua orang
tuanya bercerai. Hal ini berakibat terhadap perkembangan kejiwaannya. Hamka
merasa kurang mendapatkan kasih sayang yang sewajarnya dari kedua orang tuanya.
Apalagi ibunya pun kemudian menikah lagi dengan orang lain. Perceraian itu juga
mengakibatkan keretakan hubungan keluarga besar ayah-ibunya.[8]
Hamka yang kemudian mengikuti
ayahnya pindah ke Padang Panjang, harus menghadapi
cemoohan dari keluarga ayahnya sendiri. Menurut adat Minang, Seorang
anak lelaki dianggap tidak pantas tinggal bersama ayahnya yang tidak lagi
beristrikan ibu kandungnya. Sebaliknya,
untuk tinggal bersama ibunya pun Hamka
tidak merasa nyaman, karena ada bapak tiri. Beruntung neneknya begitu menyayangi Hamka sejak bocah
itu dilahirkan. Hamka pun tinggal dan lebih banyak menghabiskan masa kecil
bersama Neneknya.
Kondisi Hamka menimbulkan ke khawatiran yang mendalam
pada ayahnya, sebab seperti diutarakan sebelumnya, dia adalah tumpuan harapan
Haji Rasul untuk melanjutkan kepemimpinan umat. Haji Rasul pun mengirim Hamka
belajar pada Syeikh
Ibrahim Musa di Parabek, lima kilometer dari Bukittinggi. Saat itulah
minat baca Hamka mulai nampak. Ia
rajin menyimak karya-karya sastra baik
yang berbahasa Melayu maupun bahasa Arab. Kegemarannya membaca serta mengembara sambil menikmati
sekaligus mengagumi keindahan panorama alam Minangkabau yang memiliki
bukit-bukit, gunung-gunung dan danau ditambah lingkungan keluarga yang taat
beragama, telah menjadi dasar pertama bagi pertumbuhan jiwa seorang Abdul Malik
di masa mudanya[9].
Secara formal, pendidikan yang ditempuh Hamka tidaklah tinggi. Pada usia 8-15
tahun, ia mulai belajar agama di sekolah Diniyyah School dan Sumatera
Thawalib di Padang Panjang dan Parabek. Diantara gurunya adalah Syekh Ibrahim
Musa Parabek, Engku Mudo Abdul Hamid, Sutan Marajo dan Zainuddin Labay
el-Yunusy. Keadaan Padang
Panjang pada saat itu ramai dengan penuntut ilmu agama Islam, di bawah pimpinan ayahnya
sendiri. Pelaksanaan pendidikan waktu itu masih bersifat tradisional dengan menggunakan
sistim halaqah. Pada tahun 1916, sistim klasikal baru diperkenalkan di
Sumatera Thawalib Jembatan Besi. Hanya saja, pada saat itu sistim klasikal yang
diperkenalkan belum memiliki bangku, meja, kapur dan papan tulis. Materi
pendidikan masih berorientasi pada pengajian kitab-kitab klasik, seperti nahwu,
sharaf, manthiq, bayan, fiqh, dan yang sejenisnya. Pendekatan pendidikan
dilakukan dengan menekankan pada aspek hafalan. Pada waktu itu, sistim hafalan
merupakan cara yang paling efektif bagi pelaksanaan pendidikan. Meskipun
kepadanya diajarkan membaca dan menulis huruf arab dan latin, akan tetapi yang
lebih diutamakan adalah mempelajari dengan membaca kitab-kitab arab klasik
dengan standar buku-buku pelajaran sekolah agama rendah di Mesir. Pendekatan pelaksanaan pendidikan tersebut tidak diiringi dengan belajar menulis secara
maksimal. Akibatnya banyak diantara teman-teman Hamka yang fasih membaca kitab, akan
tetapi tidak bisa menulis dengan baik. Meskipun tidak puas dengan sistim
pendidikan waktu itu, namun ia tetap mengikutinya dengan seksama. Diantara metode yang digunakan guru-gurunya, hanya metode
pendidikan yang digunakan Engku Zainuddin Labay el-Yunusy yang menarik hatinya. Pendekatan yang
dilakukan Engku Zainuddin, bukan hanya mengajar (transfer of
knowledge), akan tetapi juga melakukan proses ’mendidik’ (transformationof
value). Melalui Diniyyah School Padang Panjang yang didirikannya, ia telah
memperkenalkan bentuk lembaga pendidikan Islam modern dengan menyusun kurikulum
pendidikan yang lebih sistematis, memperkenalkan sistem
pendidikan klasikal dengan menyediakan kursi dan bangku tempatduduk siswa,
menggunakan buku-buku di luar kitab standar, serta memberkan ilmu-ilmu umum
seperti, bahasa, matematika, sejarah dan ilmu bumi.[10] Wawasan Engku
Zainuddin yang demikian luas, telah ikut membuka cakrawala
intelektualnya tentang dunia luar. Bersama dengan Engku Dt.Sinaro, Engku
Zainuddin memiliki percetakan dan perpustakaan sendiri dengan nama Zinaro. Pada awalnya, ia hanya diajak untuk membantu melipat-lipat kertas pada
percetakan tersebut. Sambil bekerja, ia diijinkan untuk membaca
buku-buku yang ada di perpustakaan tersebut. Di sini, ia memiliki kesempatan
membaca bermacam-macam buku, seperti agama, filsafat dansastra. Melalui
kemampuan bahasa sastra dan daya ingatnya yang cukup kuat,ia mulai berkenalan
dengan karya-karya filsafat Aristoteles, Plato, Pythagoras ,Plotinus,
Ptolemaios, dan ilmuan lainnya. Melalui bacaan tersebut, membuat cakrawala
pemikirannya semakin luas.[11]
Meski tidak mempunyai latar belakang pendidikan formal yang
terbilang tinggi, namun Hamka berhasil menjadi seorang ulama yang berhasil. Hal ini berkat ketekunannya dalam belajar secara otodidak. Ia sangat rajin
dalam membaca kitab-kitab klasik yang ia temukan, baik itu di toko buku, maupun
di perpustakaan-perpustakaan.
Hamka mulai meninggalkan kampung halamannya
untuk menuntut ilmu di Pulau Jawa, sekaligus ingin mengunjungi kakak iparnya,
Ahmad Rasyid Sutan Mansur yang tinggal di Pekalongan, Jawa Tengah. Untuk itu, Hamka kemudian ditumpangkan dengan Marah Intan, seorang
saudagar Minangkabau yang hendak ke Yogyakarta. Sesampainya di Yogyakarta, ia tidak langsung
ke Pekalongan. Untuk sementara waktu, ia tinggal bersama adik ayahnya, Ja’far
Amrullah di kelurahan Ngampilan, Yogyakarta. “Barulah
pada tahun 1925, ia berangkat ke Pekalongan, dan tinggal selama enam bulan
bersama iparnya, Ahmad Rasyid Sutan Mansur”.[12]
Februari 1927
Buya Hamka berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji serta menuntut ilmu
agama disana, beliau sempat bermukim di Mekah selama 6 bulan dan pernah bekerja
pada sebuah tempat percetakan.Juli 1927 Hamka telah kembali dari Mekah.Menurut
kebiasaan pada masa itu bila seseorang telah kembali dari Mekah setelah
menunaikan ibadah Haji, pandangan terhadap dirinya sudah berbeda dan lebih
tinggi.Apabila ada jamuan, orang yang sudah menunaikan ibadah Haji duduk di
tempat terhormat yang sudah disediakan bersama imam atau khatib dan juga alim
ulama.
Pada tanggal 5
April 1929, Hamka dinikahkan dengan Siti Raham binti Endah Sutan, yang
merupakan anak dari salah satu saudara laki-laki ibunya. Dari perkawinannya dengan Siti Raham, ia dikaruniai 11 orang anak. Mereka
antara lain Hisyam, Zaky, Rusydi, Fakhri, Azizah, Irfan, Aliyah, Fathiyah,
Hilmi, Afif, dan Syakib. Setelah
istrinya meninggal dunia, satu setengah tahun kemudian, tepatnya pada tahun
1973, ia menikah lagi dengan seorang perempuan bernama Hj. Siti Khadijah.
Menjelang akhir hayatnya ia mengangkat Jusuf Hamka, seorang muallaf, peranakan
Tionghoa-Indonesia sebagai anak[13].
Hamka adalah
seorang otodidak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat,
sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan
kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan
pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas
Al-Aqqad, Mustafa Al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga beliau
meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus,
William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, jean Paul Sartre, Karl Marx dan
Pierre Loti. Hamka juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan
tokoh-tokoh terkenal Jakarta, seperti H.O.S.Tjokroaminoto, Raden Mas
Surjoparonoto, Haji Fachrudin, AR. Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo.
Modal Hamka yang utama sebagai seorang intelektual-otodidak adalah
keberanian dan ketekunan. Karena dedikasinya di bidang dakwah, pada tahun 1960
Universitas Al-Azhar Cairo menganugerahkan Doktor Honoris Causa kepada Hamka yang membawakan pidato ilmiah berjudul
"Pengaruh Ajaran dan Pikiran Syekh Mohammad Abduh di Indonesia".
Kemudian, dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Hamka
memperoleh Doktor Honoris Causa (Doktor Persuratan) yang pengukuhannya tahun
1974 dihadiri Perdana Menteri Tun Abdul Razak. Semasa hidupnya dalam kapasitas
sebagai Guru Besar yang dikukuhkan oleh Universitas Islam Indonesia (UII)
Yogyakarta dan Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama, Jakarta, Hamka sering
memberi kuliah di berbagai perguruan tinggi.Demikian pula ceramah dakwah Hamka
melalui Kuliah Subuh RRI Jakarta dan Mimbar Agama Islam TVRI diminati jutaan
masyarakat Indonesia masa itu.
Hamka menjabat Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama
tahun 1975 sampai 1981 selama dua priode.
Dia berhasil membangun citra MUI sebagai lembaga independen dan berwibawa untuk
mewakili suara umat Islam. Hamka
menolak mendapat gaji sebagai Ketua Umum MUI. Mantan
Menteri Agama H.A. Mukti Ali mengatakan, "Berdirinya MUI adalah jasa Hamka
terhadap bangsa dan negara. Tanpa Buya, lembaga itu tak akan mampu berdiri. Di tengah kepengurusan keduanya, Hamka
meletakkan jabatan sebagai Ketua Umum MUI. Hal ini disebabkan sebagai Ketua
Umum MUI Hamka menolak permintaan Pemerintah untuk mencabut fatwa MUI yang
mengharamkan umat Islam mengikuti acara perayaan Natal.[14] Sebagai seorang ulama Hamka tidak bisa
melakukan kompromi dengan siapa pun mengenai akidah.
Buya Hamka meninggal pada hari jum’at tanggal 24 Juli 1981 di
usianya yang ke 73 tahun dengan tenang dan disaksikan oleh anak cucu serta
kerabat karibnya.[15]
Hamka pernah menerima anugerah pada peringkat Nasional antar bangsa seperti
anugerah kehormatan Doctor Honoris Causa, Universitas al-Azhar, 1958; Doctor
Honoris causa, Universitas Kebangsaan malaysia, 1974. Setelah meninggal dunia,
Hamka mendapat Bintang Mahaputera dari pemerintah RI di tahun 1986. Dan pada
tanggal 9 November 2011 Hamka dinyatakan
sebagai Pahlawan Nasional Indonesia setelah dikeluarkannya Keppres No.
113/TK/Tahun 2011.[16] Hamka merupakan salah satu orang Indonesia yang paling
banyak menulis dan menerbitkan buku. Oleh karenanya ia dijuluki sebagai Hamzah
Fansuri di era modern[17].
B. Karya-KaryaHamka
Sebagai seorang yang berpikiran maju, tidak hanya ia lakukan di mimbar
melalui berbagai berbagai macam ceramah agama. Ia juga merefleksikan
kemerdekaan berpikirnya melalui berbagai macam karyanya dalam bentuk tulisan.
Orientasi pemikirannya meliputi berbagai disiplin ilmu, seperti teologi,
tasawuf, filsafat, pemikiran pendidikan Islam, sejarah Islam, fiqih, sastra dan
tafsir. Bahkan, meskipun dalam waktu relatif singkat ia juga pernah terlihat
dalam politik praktis. Melihat sepak terjangnya yang demikian dinamis, secara
lugas Hadler mengungkapkan bahwa Hamka merupakan sosok multidimensi dan
sekaligus terkadang kontroversial.[18]
Hamka
merupakan salah satu orang Indonesia yang paling banyak menulis dan menerbitkan
buku. Oleh karenanya ia dijuluki sebagai Hamzah Fansuri di era modern.
Berikut diantara beberapa buku karangan Hamka:
- Kenang-Kenangan Hidup, 4 Jilid,
Jakarta: Bulan Bintang, 1979.
- Ayahku (Riwayat
Hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan
Perjuangannya), Jakarta: Pustaka Wijaya, 1958.
- Khatib al-Ummah, 3 Jilid,
Padang Panjang, 1925.
- Islam dan Adat, Padang
Panjang: Anwar Rasyid, 1929.
- Kepentingan Melakukan
Tabligh, Padang Panjang: Anwar Rasyid, 1929.
- Majalah Tentera, 4 nomor,
Makassar, 1932.
- Majalah al-Mahdi, 9 nomor,
Makassar, 1932.
- Bohong di Dunia, cet. 1,
Medan: Cerdas, 1939.
- Agama dan Perempuan, Medan:
Cerdas, 1939.
- Pedoman Mubaligh
Islam, cet. 1, Medan: Bukhandel Islamiah, 1941.
- Majalah Semangat
Islam, 1943.
- Majalah Menara, Padang
Panjang, 1946.
- Hikmat Isra’ Mi’raj, 1946
(tempat dan penerbit tidak diketahui).
- Negara Islam, 1946
(tempat dan penerbit tidak diketahui),
- Islam dan Demokrasi, 1946
(tempat dan penerbit tidak diketahui),
- Revolusi Fikiran, 1946
(tempat dan penerbit tidak diketahui),
- Dibandingkan Ombak
Masyarakat, 1946 (tempat dan penerbit tidak diketahui),
- Muhammadiyah Melalui
Tiga Zaman, Padang Panjang: Anwar Rasyid, 1946.
- Revolusi Agama, Padang
Panjang: Anwar Rasyid, 1946.
- Sesudah Naskah
Renville, 1947 (tempat dan penerbit tidak diketahui).
- Tinjauan Islam Ir.
Soekarno, Tebing Tinggi, 1949.
- Pribadi, 1950
(tempat dan penerbit tidak diketahui).
- Falsafah Hidup, cet. 3,
Jakarta: Pustaka Panji Masyarakat, 1950.
- Falsafah Ideologi
Islam, Jakarta: Pustaka Wijaya, 1950.
- Urat Tunggang
Pancasila, Jakarta: Keluarga, 1951.
- Pelajaran Agama Islam, Jakarta:
Bulan Bintang, 1952.
- K.H. A. Dahlan, Jakarta:
Sinar Pujangga, 1952.
- Perkembangan
Tashawwuf dari Abad ke Abad, cet. 3, Jakarta:
Pustaka Islam, 1957.
- Pribadi, Jakarta:
Bulan Bintang, 1959.
- Pandangan Hidup
Muslim, Jakarta: Bulan Bintang, 1962.
- Lembaga Hidup, cet. 6,
Jakarta: Jayamurni, 1962 (kemudian dicetak ulang di Singapura oleh Pustaka
Nasional dalam dua kali cetakan, pada tahun 1995 dan 1999).
- 1001 Tanya Jawab tentang
Islam, Jakarta: CV. Hikmat, 1962.
- Cemburu, Jakarta:
Firma Tekad, 1962.
- Angkatan Baru, Jakarta:
Hikmat, 1962.
- Ekspansi Ideologi, Jakarta:
Bulan Bintang, 1963.
- Pengaruh Muhammad
Abduh di Indonesia, Jakarta: Tintamas, 1965 (awalnya
merupakan naskah yang disampakannya pada orasi ilmiah sewaktu menerima
gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar Mesir, pada 21
Januari 1958).
- Sayyid Jamaluddin
al-Afghani, Jakarta: Bulan Bintang, 1965.
- Lembaga Hikmat, cet. 4,
Jakarta: Bulan Bintang, 1966.
- Dari Lembah Cita-Cita, cet. 4,
Jakarta: Bulan Bintang, 1967.
- Hak-Hak Azasi Manusia
Dipandang dari Segi Islam, Jakarta: Bulan
Bintang, 1968.
- Gerakan Pembaruan
Agama (Islam) di Minangkabau, Padang: Minang
Permai, 1969.
- Hubungan antara Agama
dengan Negara menurut Islam, Jakarta: Pustaka
Panjimas, 1970.
- Islam, Alim Ulama dan
Pembangunan, Jakarta: Pusat dakwah Islam Indonesia, 1971.
- Islam dan Kebatinan, Jakarta:
Bulan Bintang, 1972.
- Mengembalikan Tasawuf
ke Pangkalnya, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1973.
- Beberapa Tantangan terhadap
Umat Islam di Masa Kini, Jakarta: Bulan
Bintang, 1973.
- Kedudukan Perempuan
dalam Islam, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1973.
- Muhammadiyah di
Minangkabau, Jakarta: Nurul Islam, 1974.
- Tanya Jawab Islam, Jilid I
dan II cet. 2, Jakarta: Bulan Bintang, 1975.
- Studi Islam, Aqidah,
Syari’ah, Ibadah, Jakarta: Yayasan Nurul Iman, 1976.
- Perkembangan
Kebatinan di Indonesia, Jakarta: Yayasan Nurul Islam, 1976.
- Tasawuf, Perkembangan
dan Pemurniannya, cet. 8, Jakarta: Yayasan Nurul Islam, 1980.
- Ghirah dan Tantangan
Terhadap Islam, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982.
- Kebudayaan Islam di
Indonesia, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982.
- Lembaga Budi, cet. 7,
Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983.
- Tasawuf Modern, cet. 9,
Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983.
- Doktrin Islam yang
Menimbulkan Kemerdekaan dan Keberanian, Jakarta: Yayasan
Idayu, 1983.
- Islam: Revolusi
Ideologi dan Keadilan Sosial, Jakarta: Pustaka
Panjimas, 1984.
- Iman dan Amal Shaleh, Jakarta:
Pustaka Panjimas, 1984.
- Renungan Tasawuf, Jakarta:
Pustaka Panjimas, 1985.
- Filsafat Ketuhanan, cet. 2,
Surabaya: Karunia, 1985.
- Keadilan Sosial dalam
Islam, Jakarta: Pustaka Antara, 1985.
- Tafsir al-Azhar, Juz I
sampai Juz XXX, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1986.
- Prinsip-prinsip dan
Kebijaksanaan Dakwah Islam, Jakarta: Pustaka
Panjimas, 1990.
- Tuntunan Puasa,
Tarawih, dan Idul Fitri, Jakarta: Pustaka
Panjimas, 1995.
- Adat Minangkabau
Menghadapi Revolusi, Jakarta: Tekad, 1963.
- Islam dan Adat
Minangkabau, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984.
- Mengembara di Lembah
Nil, Jakarta: NV. Gapura, 1951.
- Di Tepi Sungai Dajlah, Jakarta:
Tintamas, 1953.
- Mandi Cahaya di Tanah
Suci, Jakarta: Tintamas, 1953.
- Empat Bulan di
Amerika, 2 Jilid, Jakarta: Tintamas, 1954.
- Merantau ke Deli, cet. 7,
Jakarta: Bulan Bintang, 1977 (ditulis pada tahun 1939).
- Si Sabariah (roman
dalam bahasa Minangkabau), Padang Panjang: 1926.
- Laila Majnun, Jakarta:
Balai Pustaka, 1932.
- Salahnya Sendiri, Medan:
Cerdas, 1939.
- Keadilan Ilahi, Medan:
Cerdas, 1940.
- Angkatan Baru, Medan:
Cerdas, 1949.
- Cahaya Baru, Jakarta:
Pustaka Nasional, 1950.
- Menunggu Beduk
Berbunyi, Jakarta: Firma Pustaka Antara, 1950.
- Terusir, Jakarta:
Firma Pustaka Antara, 1950.
- Di Dalam Lembah
Kehidupan (kumpulan cerpen), Jakarta: Balai Pustaka, 1958.
- Di Bawah Lindungan Ka'bah, cet. 7,
Jakarta: Balai Pustaka, 1957.
- Tuan Direktur, Jakarta:
Jayamurni, 1961.
- Dijemput Mamaknya, cet. 3,
Jakarta: Mega Bookstrore, 1962.
- Cermin Kehidupan, Jakarta:
Mega Bookstrore, 1962.
- Tenggelamnya Kapal Van der
Wijck, cet. 13, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.
- Pembela Islam (Tarikh
Sayyidina Abubakar Shiddiq), Medan: Pustaka Nasional, 1929.
- Ringkasan Tarikh
Ummat Islam, Medan: Pustaka Nasional,1929.
- Sejarah Islam di
Sumatera, Medan: Pustaka Nasional, 1950.
- Dari Perbendaharaan
Lama, Medan: M. Arbi, 1963.
- Antara Fakta dan
Khayal Tuanku Rao, cet. 1, Jakarta: Bulan Bintang, 1974.
- Sejarah Umat Islam, 4 Jilid,
Jakarta: Bulan Bintang, 1975.
- Sullam al-Wushul;
Pengantar Ushul Fiqih (terjemahan karya Dr. H. Abdul Karim
Amrullah), Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984.
- Margaretta Gauthier
(terjemahan karya Alexandre
Dumas), cet. 7, Jakarta: Bulan Bintang, 1975.[19]
[1]A. Susanto, Pemikiran Pendiidkan Islam, (Jakarta: Amzah, 2010), h.100
[3]Shobahussurur, Mengenang 100 Tahun Haji Abdul Malik
Karim Amrullah (Hamka), (Jakarta.Yayasan
Pesantren Islam Al-Azhar. 2008), h 17
[5]Shobahussurur, loc. Cit
[6]
Samsul Nizar, Memperbincangkan Dinamika Intelektual dan Pemikiran Hamka tentang Pendidikan Islam, (Jakarta : Kencana, 2008), h.18
[14]Irfan Hamka, Ayah...(Jakarta: Republika Penerbit, 2013), h. 273
[15]Rusydi
Hamka, Pribadi dan Martabat Buya Prof. Dr. Hamka, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), h. 230
[17]
Muhammad Ahmad As-Sambaty, Kenang-Kenangan
70 Tahun Buya Hamka,. (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), h.
15.
[18]Azyumardi Azra, Historiografi Islam Kontemporer, (Jakarta : PT.
Gramedia Pustaka Utama, 2002), h. 260
Tidak ada komentar:
Posting Komentar