Rabu, 29 April 2015

NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM KELUARGA MENURUT HAMKA

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah suatu proses dan sistem yang bermuara dan berujung pada pencapaian suatu kualitas tertentu yang dianggap dan diyakini paling ideal. kualitas hasil pendidikan generasi mendatang tergantung bagaimana pendidikan itu diberikan saat ini.
Pendidikan pada umumnya dan khususnya pendidikan Islam, tujuannya tidaklah sekedar proses alih budaya atau ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) tetapi juga proses pentransferan seperangkat pengetahuan yang dianugrahkan oleh Allah kepada manusia.[1] Dengan kekuatan yang dimilikinya, baik kekuatan pancaindera maupun akal.[2] Tujuan pendidikan Islam menjadikan manusia yang bertaqwa, manusia yang dapat mencapai al-falah, kesuksesan hidup yang abadi, dunia dan akhirat (muflihun).[3]
Pendidikan Islam berbeda dengan pendidikan barat sekuler, terutama karena pendidikan Islam tidak hanya didasarkan atas hasil pemikiran manusia dalam mencapai kemaslahatan umum atau humanisme universal namun dasar pokok pendidikan Islam adalah al-Qur'an dan al-Hadis.
Al-quran sebagai dasar pokok pendidikan Islam di dalamnya terkandung sumber nilai yang absolut, yang eksistensinya tidak mengalami perubahan walaupun interpretasi (penafsirannya) mengalami penyesuaian sesuai dengan konteks zaman, keadaan dan tempat.[4]
Dewasa ini dunia pendidikan modern yang didominasi oleh karakter pendidikan barat menawarkan berbagai konsep pendidikan yang sarat teori psikologi dan filsafat pendidikan. Namun konsep-konsep yang ditawarkan itu tidak mampu melahirkan manusia yang sadar akan tugas dan tujuan hidupnya. Lewat prinsip dan metode pendidikannya, Islam menawarkan jalan keluar sehingga lahirlah generasi yang siap mengarungi dan memaknai kehidupan. Yang istemewa, Islam menjadikan keluarga, sekolah dan masyarakat sebagai mitra dalam pembinaan dan pendidikan anak.
Keluarga, sekolah dan masyarakat merupakan pusat pendidikan, tapi keluargalah yang memberikan pengaruh pertama kali, keluarga merupakan pusat pendidikan yang paling berpengaruh dibandingkan yang lainnya, karena seorang anak pun masuk Islamsejak awal kehidupannya, dan dalam keluargalah ditanamkan benih-benih pendidikan. demikian pula waktu yang dihabiskan seorang anak di rumah lebih banyak dibandingkan waktu yang dihabiskan ditempat lain, dan kedua orang tua merupakan figur yang paling berpengaruh terhadap anak.
Orang tua adalah pendidik alami, orang tua mempunyai hubungan batin dan rasa cinta alami dengan anaknya, berhubung dengan itu, keluarga sebagai tempat, lingkungan  dan masyarakat primer hidupnya orang tua beserta anak-anaknya disebut sebagai pusat pendidikan pertama.
Pendidik pertama dan utama adalah orang tua sendiri yang bertanggung jawab atas kemajuan perkembangan anak kandungnya. Karena sukses anaknya merupakan sukses orang tuanya juga.[5] Sebagaiman firman Allah SWT berikut ini :
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3Î=÷dr&ur #Y$tR $ydߊqè%ur â¨$¨Z9$# äou$yfÏtø:$#ur $pköŽn=tæ îps3Í´¯»n=tB ÔâŸxÏî ׊#yÏ© žw tbqÝÁ÷ètƒ ©!$# !$tB öNèdttBr& tbqè=yèøÿtƒur $tB tbrâsD÷sムÇÏÈ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim, 66:6)[6]

Ayat tersebut menjelaskan pentingnya untuk menjaga atau membentengi diri dan keluarga dari api neraka, orang tua berkewajiban memberikan pendidikan yang bisa menyelamatkan anaknya dari api neraka yaitu pendidikan agama dan juga di iringi dengan pengetahuan lainnya. Dalam melaksanakannya orang tua hendaknya bersifat arif dan bijaksana dalam membimbing dan mengarahkan anak-anaknya. Tugas lainnya  adalah memberikan contoh yang baik, menasehati, membimbing serta mengontrol sehingga anak berkembang sesuai dengan ajaran agama.[7].
Orang tua yang sadar akan tanggung jawab terhadap pendidikan anaknya, mereka akan memberikan bimbingan, pengarahan dan pembinaan terhadap anaknya sedini mungkin.Pendidikan bukan hanya proses alih ilmu pengetahuan namun juga alih nilai-nilai atau bukan sekedar transformasi namun juga internalisasi nilai, merupakan tantangan yang berat bagi kalangan pendidik. Karena proses alih nilai-nilai (pendidikan nilai) orientasinya pada ranah efektif. Pendidikan nilai dapat dilakukan dalam bentuk prilaku-prilaku atau tingkahlaku yang menunjukkan nilai-nilai yang diinginkan. Dari prilaku-prilaku itulah pendidikan nilai bisa dipahami.
Pendidikan Islam sangat memperhatikan keseimbangan dan keserasian antara dua kepentingan hidup (dunia dan akhirat), sehingga pendidikan Islam tidak mengkotakkan diri dalam pendidikan kerohanian saja, namun pendidikan kejasmanian pun dalam perhatiannya.
Dewasa ini, masih banyak pendidik dalam hal ini orang tua yang kurang memperhatikan pendidikan rohani-spiritual anak, mereka lebih menekankan pendidikan jasmani-material, dalam anggapan mereka pendidikan yang bersifat jasmani-material inilah yang akan menjawab dan menentukan masa depannya.
Setelah diketahui pentingnya pendidikan spritual dan material dalam keseimbangan dan harus diperhatikan sedini mungkin yaitu sejak dalam lingkungan keluarga tentunya sesuai kronologis-psikologis anak, yang menjadi pertanyaan sekarang adalah pendidikan nilai apa saja yang harus diberikan kepada anak.
Didunia pendidikan banyak tokoh-tokoh Islam yang mengemukakan pemikirannya tentang pendidikan, Muhamad Abduh menetapkan tujuan, pendididkan Islam yang di rumuskan sendiri yakni: Mendidik jiwa dan akal serta menyampaikannya kepada batas-batas kemungkinan seseorang dapat mencapai kebahagian hidup di dunia dan akhirat.[8] Hasan Langgulung ketika membicarakan tujuan pendidikan Islam, menurutnya pendidikan Islamharus mengakomodasikan tiga fungsi atau nilai agama yaitu fungsi spritual yang berkaitan dengan akidah dan iman, fungsi psikologis yang berkaitan dengan tingkah laku individual yang temasuk dalam akhlak, yang mampu mengangkat derajat yang lebih sempurna dan fungsi sosial, yang berkaitan dengan aturan yang menghubungkan manusia dengan lainnya atau masyarakat, dimana masing-masing mempunyai hak-hak dan tanggung jawabnya untuk menyusun masyarakat yang harmonis dan seimbang.[9] Sedangkan tujuan pendidikan Islam menurut Hamka adalah mengenal dan mencari keridhaan Allah, membangun budi pekerti untuk berakhlak mulia, serta mempersiapkan peserta didik untuk hidup secara layak dan berguna di tengah-tengah komunitas sosialnya.[10]
Pandangan Hamka             ini memberikan makna, bahwa secara substansial pendidikan Islam tidak hanya bertujuan mencetak ulama. Akan tetapi pendidikan Islam itu berkaitan dengan akhlak, pengakuan masyarakat dan aktivitas kehidupan kekinian. Oleh karena itu, tujuan pendidikan Islam  sesungguhnya lebih berorientasi pada transinternalisasi ilmu kepada peserta didik agar mereka menjadi insan yang berkualitas, baik dalam aspek keagamaan maupun sosial.
Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa pemikiran Hamka tentang tujuan dan konsep pendidikan Islam, secara umum berangkat dari keinginan untuk mengharmonisasikan sistem pendidikan tradisional dan modern (umum).
Hamka adalah salah satu tokoh pendidikan, dia menentang sikap taqlid menurutnya sikap taqlid adalah musuh kemerdekaan berpikir. Orang yang bertaqlid kata hamka adalah orang yang percaya dengan membabi tuli apa yang dikatakan orang lain atau yang diterima dari guru. Keadaan seperti ini menurutnya akan menimbulkan kebekuan berpikir, padahal dengan membiasakan berpikir akan menjaga kesehatan jiwa, dan menjauhkan kita dari sifat malas.[11] Sikap menolak taqlid inilah kemudian membuat hamka menjadi pemikir bebas yang tidak terikat pada salah satu mazhab manapun dalam Islam.[12]
Hamka berpendapat bahwa konsep kemampuan manusia adalah potret manusia yang dinamis, bukan manusia yang fatalis, manusia yang kreatif, bukan manusia yang fasif, manusia yang tidak mau menyerah kepada keadaan, manusia yang liat dan ulet menghadapi dunia dengan segala ujiannya, manusia yang bersikap progresif  dan inovatif, tetapi juga manusia yang ikhlasmenerima pemberian-Nya sambil bertawakkal kepada-Nya.[13]
Hamka memberikan rambu-rambu bagi kedua orang tua bagaimana cara melaksanakan pendidikan terhadap anak, yaitu:
a.       Biasakan anak cepat bangun dan jangan terlalu banyak tidur. Sebab, dengan banyak tidur akan membuat anak mals beraktivitas, malas berpikir dan lamban berkreasi.
b.      Tanamkan pendidikan akhlak yang mulia dan hidup sederhana sedini mungkin. Sebab bila tidak , maka akan sulit untuk mengubah sikap yang telah mengkristal tersebut kepada sebuah kebaikan.
c.       Melalui cerita-cerita yang menekankan cinta kasih, ajarkan kepada mereka pentingnya kehidupan yang harmonis.
d.      Biasakan anak untuk percaya diri dan tidak menggantungkan diri dengan orang lain, memiliki kemerdekaan dalam menegeluarkan pendapat, serta bertanggung jawab terhadap keputusan yang di ambilnya. Setidaknya, ada dua pendekatan Islam untuk mananamkan kepercayaan diri, yaitu melalui tauhid dan melaului takdir. Mempercayai tiada kekuatan dan ketentuan yang lebih final selain aturan Allah. Tidak ada satu makhluk pun yang patut ditakuti, kecuali Allah. Tumbuhnya kepercayaan pada diri anak akan menimbulkan daya gerak dan daya pikir secara merdeka.[14]

Pandangan Hamka di atas, merupakan reaksi dari pelaksanaan pendidikan yang dilakukan kebanyakan orang tua waktu itu, pada umumnya anak tidak memiliki kebebasan untuk mengeluarkan pendapat dihadapan orang tuanya, maupun dalam menentukan kehendak gerak hati sesuai dengan cita-citanya. Kedua orang tua seakan berkuasa penuh dalam menentukan masa depan anak-anaknya.
Menurut Hamka, model pemikiran umat terutama kedua orang tua yang demikian seyogianya dihilangkan. Kedua oang tua hendaknya memiliki visi baru tentang pendidikan anak-anaknya, memberikan kebebasan (kemerdekaan) berpikir kepada anak untuk berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.[15]
Maka dari itu dalam penelitian ini penulis akan mencoba membahas tentang nilai-nilai pendidikan Islamdalam keluarga menurut hamka yang diwujudkan dalam bentuk skripsi dengan judul “Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Keluarga Menurut Hamka”.

B.     Rumusan Masalah dan Batasan Masalah
  1. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penulisan skripsi ini adalah Bagaimana nilai-nilai pendidikan Islamdalam keluarga menurut Hamka?
  1. Batasan Masalah
Mengingat luasnya bidang garapan dari pembahasan ini, maka untuk lebih memperjelas dan memberi arah yang tepat dalam penulisan skripsi ini, perlu adanya pembatasan masalah dalam pembahasannya. Maka penulis membatasi permasalahan dalam penulisan skripsi ini sebagai berikut:
a.       Bentuk penanaman nilai pendidikan aqidah dalam keluarga menurut Hamka.
b.      Bentuk penanaman nilai pendidikan syariah dalam keluarga menurut Hamka.
c.       Bentuk penanaman nilai pendidikan akhlak dalam keluarga menurut Hamka.

C.    Tujuan Penelitian dan Kegunaan Penelitian
1.      Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang hendak dicapai dengan penelitian ini adalah:
a.       Untuk mengetahui bentuk penanaman nilai pendidikan Aqidah dalam keluarga menurut Hamka.
b.      Untuk mengetahui bentuk penanaman nilai pendidikan Syariah dalam keluarga menurut Hamka.
c.       Untuk mengetahui bentuk penanaman nilai pendidikan Akhlak dalam keluarga menurut Hamka.
2.      Kegunaan Penelitian
a.       Untuk memenuhi salah satu syarat dalam mencapai gelar Sarjana Pendidikan Islam di Sekolah Tinggi Agama Islam( STAI ) Yayasan Perguruan Tinggi Islam Pasaman (YAPTIPSimpang Empat Pasaman Barat.
b.      Sebagai alternatif sumber bahan pelajaran bagi pendidik terutama dalam pendidikan agama Islam dalam rangka penanaman nilai-nilai Islami pada anak.
c.       Secara praktis pembahasan ini diharapkan bisa digunakan sebagai salah satu pedoman dan acuan dalam penerapan nilai-nilai pendidikan Islam keluarga dalam kehidupan sehari-hari sesuai pedoman Al-Qur’an.
d.      Untuk menambah referensi Perpustakaan STAI-YAPTIP Pasaman Barat.

D.    Penjelasan Judul
Nilai                          :
konsepsi-konsepsi abstrak di dalam diri manusia atau masyarakat mengenai hal-hal yang dianggap baik, benar dan hal-hal yang dianggap buruk dan salah. Nilai merupakan petunjuk-petunjuk umum yang telah berlangsung lama yang mengarahkan tingkah laku dan kepuasan dalam kehidupan sehari-hari.[16]
Pendidikan Islam      :
Bimbingan jasmani maupun rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.[17]
Keluarga                   :
Orang seisi rumah yang menjadi tanggungan.[18]
Hamka                      :
Hamka, atau nama lengkapnya Haji Abdul Malik Karim Amrullah adalah seorang ulama besar awal abad ke-20 dari Minangkabau (lahir di Kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, Indonesia pada 17 Februari 1908 - 24 Juli 1981)[19]
Dari penjelasan di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa yang dimaksud dalam penelitian ini adalah usaha, bimbingan, pengarahan atau latihan yang dilakukan orang tua (pendidik) kepada anak, agar anak membiasakan diri melakukan hal-hal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan ketentuan-ketentuan ukuran-ukuran Islam, serta melakukan perbuatan-perbuatan terpuji dan menjauhi perbuatan-perbuatan tercela, yang diarahkan kepada pembentukan kepribadian anak. Dengan harapan akan terbentuk manusia yang taat akan perintah-perintah Allah SWT, dan mempunyai akhlakul karimah.

E.     Tinjauan Pustaka
Fungsi kajian pustaka adalah untuk mengemukkakan hasil-hasil peneliti yang diperoleh peneliti dahulu yang ada hubungannya dengan penelitian yang akan dilakukan. Adapun beberapa peneliti yang telah penulis ketahui yang di ambil dari internet yang meneliti tentang pendidikan Islam adalah sebagai berikut:
Cahyatri Hernawati, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, judul skripsi Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Al-Qur'an surat luqman ayat 12-19 (studi tafsir al-Azhar), dalam penelitiannya membahas tentang pendidikan yang terkandungdalam surat luqman ayat 12-19 tersebut dalam bidang pendidikan aqidah, pendidikan syariah dan  pendidikan akhlak.[20]
Anas Yusman, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, judul skripsi Peranan Hamka dalam Organisasi Muhammadiyah di Indonesia, tahun 2008. Dalam penelitiannya membahas tentang peranan Hamka bagi perkembangan Muhammadiyah di Indonesia.[21]
Laeli Nafilah, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, judul skripsi Konsep Pendidik menurut Buya Hamka (telaah buku Lembaga Hidup karya Hamka), tahun 2011. Penelitiannya membahas tentang pemikiran Hamka tentang pendidik yang konsentrrasinya pada pengembangan akhlakul karimah seorang guru.[22]
Maysaroh, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, judul skripsi Pendidikan Akhlak dalam al-Qur’an (Studi atas Penafsiran Hamka), tahun 2011. Dalam penelitiannya membahas inventarisasi ayat-ayat yang menjelaskan tentang pendidikan akhlak, kemudian ayat-ayat tersebut ditafsirkan oleh Hamka.[23]
Nur Rohman, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, judul skripsi Studi Komparasi Konsep Pendidikan Akhlak menurut Hamka dan Zakiah Derajat, tahun 2013. Dalam penelitiannya membahas studi komporasi pendidikan akhlak menurut Hamka dan Zakiah Daradjat.[24]
Adapun yang membahas atau meneliti tentang penelitian yang penulis teliti ini belum ada, namun demikian penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian-penelitian yang telah ada tersebut. Oleh karena itu, penelitian sejenis yang telah dilakukan sebelumnya mempunyai makna yang sangat penting bagi penelitian ini karena jika tidak ada penelitian yang mendahuluinya niscaya peneliti ini tidak mungkin dapat dilakukan dengan baik. Apabila terdapat penelitian yang mirip atau bahkan sama dengan penelitian yang penulis angkat, hal ini merupakan ketidaktahuan dan keterbatasan pengetahuan penulis. Semoga hasil penelitian ini menjadi tambahan dan pendukung penelitian mengenai nilai-nilai pendidikan Islam dalam keluarga.
     
F.     Metodologi Penelitian
  1. Jenis Penelitian
Dalam penulisan Skripsi ini, jika ditinjau dari jenis penelitiannya penelitian ini adalah jenis penelitian Kepustakaan ( Library Research ) dimana, dalam penelitian ini penulis mengadakan observasi diperpustakaan ataupun dimana penulis bisa memperoleh data dan informasi tentang objek penelitian baik lewat buku atau alat-alat visual lainnya.[25]
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yaitujenis pendekatan kualitatifyaitu sebuah proses penelitian atau penyelidikan untuk memahami masalah sosial atau masalah manusia, berdasarkan penciptaan gambaran holistik lengkap yang dibentuk dengan kata-kata, melaporkan pandangan informan secara terperinci dan disusun dalam sebuah latar ilmiah.[26]
Sementara pendekatannya adalah pendekatan deskriptif yakni sebuah pendekatan yang menggunakan kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang diamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar belakang dan individu tersebut secara sistematis.[27]
  1. Sumber Data
         Sumber data dalam penulisan ini terdiri dari sumber primer dan sekunder. Sumber primer dalam penulisan ini adalah Tasauf Modern, Memperbincangkan Dinamika Intelektual dan Pemikiran Hamka Tentang Pendidikan Islam, Islam dan Adat Minangkabau, Lembaga Budi. Adapun sumber sekundernya adalah buku-buku lain karangan Hamka dan pengarang lainnya yang relevan dengan pembahasan skripsi ini.
  1. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yang dilakukan dalam upaya mendapatkan data yang dibutuhkan berdasarkan;
a.       Sumberdata primer yakni Tasauf Modern, Memperbincangkan Dinamika Intelektual dan Pemikiran Hamka Tentang Pendidikan Islam, Islam dan Adat Minangkabau, Lembaga Budi.
b.      Sumber data sekunder yang terdiri dari buku-buku seperti buku penelitian, jurnal, surat kabar, dan internet yang relevan.
Dari kedua sumber tersebut penulis melakukan pengumpulan data melalui dokumentasi, sehingga dapat menemukan teori-teori yang bisa dijadikan bahan pertimbangan berkenaan dengan masalah nilai pendidikan akidah dalam keluarga, nilai pendidikan syariah dalam keluarga dan nilai pendidikan akhlak dalam keluarga yang terkandung dalam buku hamka.
4.      Teknik Analisis dan PengolahanData
Dalam menganalisis data yang telah terkumpul penulis menggunakan metode conten tanalisis yaitu suatu teknik penelitian untuk membuat kesimpulan yang dapat ditiru dan shahih data dengan memperhatikan konteksnya, analisis ini merupakan analisis tentang isi pesan suatu komunitas.[28] Kemudian dilakukan deskripsi yaitu memberikan penafsiran atau uraian tentang data yang telah terkumpul. setelah data terkumpul, dianalisis dan ditafsirkan kemudian disimpulkan dengan metode Induktif yaitu dengan mengemukakan permasalahan yang bersifat khusus, kemudian membahas dan menguraikannya sehingga dapat ditarikmenjadi permasalahan yang bersifat umum. Atau diawali dengan pengamatan yang spesifik dan membangun ke arah suatu pola umum.[29]

G.    Sistematika Penulisan
Untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang skripsi ini, penulis membagi  sistematis penulisan dalam lima bab, yaitu:
BAB I          :
Merupakan pendahuluan yang terdiri atas latar belakang masalah, rumusan dan batasan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, penjelasan judul, tinjauan pustaka, metodologi penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II         :
Biografi Hamka, sepintas tentang hamka, karya-karya Hamka
BAB III       :
Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam Keluarga yang terdiri dari pengertian nilai-nilai pendidikan Islam dalam keluarga, landasan dan tujuan nilai-nilai pendidikan Islam dalam keluarga, dan nilai-nilai pendidikan Islam dalam keluarga.
BAB IV       :
Hasil Penelitian, bentuk penanaman nilai pendidikan aqidah dalam keluarga menurut Hamka, bentuk penanaman nilai pendidikan syariah dalam keluarga menurut Hamka, bentuk penanaman nilai pendidikan akhlak dalam keluarga menurut Hamka.
BAB V         :
Merupakan bab Penutup yang berisikan kesimpulan dari keseluruhan bahasan sebelumnya dan dilengkapi degan kritik dan saran kepada semua komponen yang ikut berpartisipasi di dalam pendidikan Islam.




[1]Hamka, Tafsir Al-Azhar, Juz 1 (Jakarta : Pustaka Panjimas, 1998 ), h.156
[2]Ibid, h.157
[3]A. Syafi'i Ma'arif, Pendidikan IslamIndonesia, antaraCitadanFakta, (Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 1991), h.43
[4]Didin Saefudin, Pemikiran Modern dan Postmodern Islam : Biografi Intelektual 17 Tokoh, (Jakarta: PT. Grasindo, 2003), h.1
[5] Muhaimin dan Abdul Mujid, Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Filosofistik dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya, (Bandung : Trigenda Karya, 1993 ), h.168
[6]Departemen Agama RI, al-Qur’an dan terjemahnya, Al-Jumanatul ‘Ali, (CV.Penerbit J-ART, 2004), h.560
[7] Samsul Nizar, Memperbincangkan Dinamika Intelektual dan Pemikiran Hamka tentang Pendidikan Islam, (kencana, Jakarta, 2008), h. 143.
[8]http://teratakhijau11.blogspot.com/2013/07/perbandingan-pemikiran-habdul-malik.html
Di unduh pada tanggal 06/01/2015 di Simpang Empat
[9] Hasan Langgulung, Beberapa Pemikiran Pendidikan Islam, ( Bandung : PT. Al-Ma'arif, 1980), h.178
[10] Samsul Nizar, op.cit, h. 117
[11]Hamka, Tasauf Modern, (Jakarta: PT.Pustaka Panjimas, 1990), h.140
[12] Yunan Yusuf, Corak Pemikiran Kalam Tafsir al-Azhar, (Jakarta : Pustaka Panjimas, 1990 ), h. 175
[13]Ibid, h. xxv
[14]Samsul Nizar, op.cit, h. 144
[15] Ibid, h.145
[16]Muahimin dan Abdul mujib, op.cit, h. 110
[17]Ahmad D. Marimba, PengantarFilsafatPendidikan (Bandung : Al-Ma'arif, 1989) h.21
[18]Tim Penyusun Kamus Pembinaan dan pengembangan Bahasa,Kamus Besar Bahasa Indonesia .Ed. 2.(Jakarta : Balai Pustaka, 1999)
[19]Azyumardi Azra, Ensiklopedi Islam,( Jakarta : PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2005),h. 20
PUSTAKA.pdf/Di unduh pada tanggal 06/01/2015 di Simpang Empat
[22]http://digilib.uin-suka.ac.id/6064/1/BAB%20I,V,%20DAFTAR%20PUSTAKA.pdf/Di unduh pada tanggal 15/03/2015 di Simpang Empat
pdf/Di unduh pada tanggal 15/03/2015 di Simpang Empat
[25]M. Atsar Semi, Metode Penelitian Sastra, (Bandung : Aksara, 1993), h.8
[26]Philip & Richard, dkk, Research Design, (Jakarta : KIK Press, 2002) , h. 1
[27]Moleong J Lexy, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung : Alfabeta, 2002), h.3
[28]Neong Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta : Andi Offset, 1990), h. 42
[29]Micheal Quinn Patton, Metode Evaluasi Kualitatif, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2006),  h. 16